Kemajuan teknologi konstruksi yang semakin pesat telah mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas kerja, agar dapat menciptakan cara kerja yang lebih efisien dari segi biaya dan waktu dengan tanpa mengabaikan mutu pekerjaan. Salah satunya dengan ditemukannya perancah baja (scaffolding) yang menggantikan perancah yang terbuat dari bahan kayu atau bambu.
| pekerjaan bekisting pada pekerjaan beton. Seiring perkembangan teknologi konstruksi, saat ini perancah yang dibuat dari bahan kayu dan bambu mulai ditinggalkan oleh orang-orang. Apalagi didasari dengan alasan kekuatannya dan kepedulian manusia terhadap lingkungan, mereka mulai beralih menggunakan perancah yang terbuat dari besi/baja karena lebih praktis, mudah didapat, dapat digunakan berulang kali dan dapat digunakan untuk bangunan yang lebih tinggi. Berikut ini hal-hal yang harus dipenuhi dalam penggunaan perancah:
Jenis-jenis Bahan Perancah (Shore)Terdapat 2 jenis bahan perancah (shore) sebagai penopang yang telah digunakan di dalam pelaksanaan konstruksi bangunan, yaitu: a. Perancah kayu atau bambu Meskipun semakin sedikit yang menggunakan bambu atau kayu sebagai material pembuatan perancah, namun penggunanya masih ada saja, terlebih untuk pekerjaan konstruksi bangunan rumah ataupun bangunan yang tidak terlalu tinggi dan berat. Perancah bambu pada bagian pangkalnya haruslah berukuran > Ø 7 cm atau kayu berukuran 5 cm x 7 cm agar cukup mampu menahan faktor tekuk yang ditimbulkan. Bambu yang digunakan pun haruslah bambu tua dengan ciri-ciri bewarna kuning jernih atau hijau tua, berserat padat, berbintik-bintik putih pada pangkalnya, permukaannya mengkilap, dan khusus pada bagian buku-bukunya tidak boleh pecah. Untuk pemasangan perancah dari kayu atau bambu ini harus selalu ditanam ke dalam tanah bagian kaki-kaki tiangnya atau saling dihubungkan agar tidak mudah bergeser. Selain itu, tiang perancah diikat pada setiap batang pegangan/vertikal dan batang memanjang horizontal sehingga kekuatan perancah lebih terjamin. Untuk menopang pekerja dibutuhkan papan sebagai lantai kerja perancah yang harus dipotong sejajar dengan serat kayu agar mampu menahan beban dengan tebal minimal 8 mm. Untuk memudahkan pekerja menyelesaikan item pekerjaan konstruksinya, maka jarak antara papan lantai kerja dengan dinding bangunan dianjurkan tidak boleh melebihi 30 cm. Kelebihan penggunaan perancah kayu atau bambu untuk pekerjaan konstruksi bangunan adalah proses pemasangan tidak membutuhkan alat angkat dan harga cukup murah. Sedangkan kekurangannya adalah memiliki kemampuan daya topang tergolang rendah dan daya serap air tinggi sehingga mudah retak/patah/busuk serta kemungkinan untuk penggunaan berulang sangat kecil. b. Perancah besi atau baja Perancah besi/baja merupakan perancah yang terbuat dari material pipa baja/besi yang lebih dikenal dengan istilah scaffolding. Scaffolding ini dibuat di pabrik, tetapi dapat dirangkai di lokasi proyek. Frame scaffolding merupakan salah satu tipe perancah besi/ baja atau yang sudah cukup banyak dipakai pada proyek-proyek konstruksi bangunan gedung dan infrastruktur. Frame scaffolding memiliki beberapa komponen yang harus dirangkai pada saat penggunaannya, yaitu sebagai berikut:
|
Posting Komentar untuk "Perancah (Scaffolding): Jenis, Prosedur Pemasangan dan Pembongkaran Scaffolding"